Wagub Sulteng Tinjau Lokasi Gempa Sigi, Pastikan Kebutuhan Dasar Korban Terpenuhi
Wagub Sulteng Tinjau Lokasi Gempa Sigi, Pastikan Kebutuhan Dasar Korban Terpenuhi
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, terjun langsung ke Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, untuk meninjau kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (waktu setempat). Kehadiran orang nomor dua di Sulawesi Tengah ini menjadi representasi komitmen pemerintah provinsi dalam memastikan penanganan darurat berjalan cepat, tepat sasaran, dan efektif bagi warga yang sedang dalam kondisi rentan.
Dalam kunjungannya ke titik-titik permukiman yang mengalami kerusakan cukup parah, Wagub Reny berdialog langsung dengan para penyintas gempa. Ia mendengarkan keluhan serta kebutuhan paling mendesak yang diperlukan warga, mulai dari logistik makanan, air bersih, hingga pelayanan medis. "Kehadiran kami di lapangan untuk melihat langsung kondisi masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, serta memastikan seluruh proses penanganan darurat berjalan dengan baik," tegas Reny saat berada di lokasi pengungsian.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk bekerja ekstra keras. Saat ini, tim di lapangan telah bergerak dengan mengerahkan alat berat untuk pembersihan puing-puing, mendirikan tenda-tenda darurat yang layak huni, menyalurkan bantuan logistik siap saji, serta mengoperasikan dapur umum guna memastikan kebutuhan nutrisi korban terpenuhi selama masa tanggap darurat. Selain itu, sektor kesehatan menjadi prioritas utama. Pemerintah memastikan bahwa posko kesehatan tetap tersedia selama 24 jam penuh untuk melayani masyarakat yang mengalami trauma maupun luka-luka akibat reruntuhan bangunan.
Reny menegaskan bahwa pemerintah provinsi terus berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah kabupaten, aparat TNI/Polri, serta berbagai instansi terkait lainnya. Sinergi ini diperlukan untuk mempercepat akselerasi penanganan dampak gempa di wilayah-wilayah yang terisolasi. Pemerintah provinsi berjanji untuk terus hadir di tengah masyarakat hingga proses pemulihan pascabencana selesai dilakukan. "Kami akan terus memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan seluruh bantuan yang diperlukan dapat tersalurkan dengan baik," pungkasnya.
Berdasarkan parameter data yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi ini berpusat di darat pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan (LS) dan 120,24 derajat Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter gempa terletak sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala. Kedalaman yang relatif dangkal ini menjadi salah satu alasan mengapa guncangan terasa sangat kuat dan menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan pada bangunan di sekitar pusat gempa.
Data terbaru yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 19.00 WIB menunjukkan dampak yang cukup memprihatinkan. Sedikitnya satu orang warga di Kabupaten Sigi dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Secara total, terdapat 312 jiwa atau 110 kepala keluarga (KK) yang terdampak langsung oleh bencana ini. Kabupaten Sigi tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling signifikan. Di sana, sekitar 272 jiwa atau 89 KK terdampak, dengan rincian 22 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat yang memerlukan penanganan intensif di rumah sakit.
Dampak gempa juga meluas ke wilayah lain. Di Kabupaten Parigi Moutong, dilaporkan 40 jiwa atau 21 KK terdampak. Sementara di Kota Palu, dua warga mengalami luka ringan, dan di Kabupaten Poso terdapat satu warga yang mengalami luka-luka. Pendataan kerusakan infrastruktur pun terus diperbarui oleh tim lapangan. BNPB mencatat setidaknya 67 rumah mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan; 26 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat.
Kabupaten Sigi kembali menjadi wilayah dengan kerugian infrastruktur terbanyak, yakni 47 rumah terdampak, yang terdiri dari 23 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan 12 unit rumah rusak berat. Selain hunian, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, dan satu unit UMKM juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Di Kabupaten Poso, lima rumah dilaporkan rusak. Di Parigi Moutong, 15 rumah terdampak. Sementara di Kota Palu, terdapat keretakan pada struktur Jembatan III, kerusakan pada satu fasilitas umum, satu hotel, dan satu unit tempat usaha.
Situasi pascagempa di Sulawesi Tengah saat ini masih dalam status kewaspadaan tinggi. Gempa susulan yang terjadi berulang kali telah memicu kekhawatiran masyarakat, bahkan memaksa pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata untuk mengevakuasi puluhan pasien ke area terbuka demi keamanan. Pemerintah provinsi meminta masyarakat untuk tetap tenang namun tetap waspada terhadap potensi gempa susulan serta menghindari bangunan yang retak atau rawan roboh.
Kehadiran Wagub Reny di Sigi diharapkan dapat memberikan dukungan moral bagi para korban. Pemerintah provinsi berkomitmen untuk tidak meninggalkan warga yang terdampak. Dalam jangka panjang, pemerintah juga mulai menyusun rencana rehabilitasi dan rekonstruksi bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal sesegera mungkin. Selain bantuan logistik, tim trauma healing juga akan dikerahkan untuk membantu warga, terutama anak-anak, dalam memulihkan kondisi psikologis mereka pascaperistiwa traumatis ini.
Pemerintah daerah juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bergotong-royong membantu sesama. Penyaluran bantuan dari berbagai pihak swasta dan organisasi kemanusiaan saat ini dikoordinasikan melalui satu pintu di posko utama agar bantuan tersalurkan secara merata. Dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, relawan, dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan wilayah yang terdampak gempa di Sulawesi Tengah dapat berjalan lancar dan efisien. Fokus utama saat ini tetap pada pemenuhan kebutuhan logistik, pelayanan kesehatan, dan pembersihan area publik dari material bangunan yang membahayakan warga.