Hadiri Gerak Hijau 2026, Ini Pesan Wamen Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono
Hadiri Gerak Hijau 2026, Ini Pesan Wamen Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah ataupun sektor dunia usaha semata. Dalam pandangannya, kolaborasi lintas elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga ekosistem lingkungan sekaligus memastikan warisan bumi yang lebih layak huni bagi generasi mendatang. Pernyataan ini disampaikan Diaz saat menghadiri acara Gerak Hijau 2026 yang berlangsung di Jakarta, Minggu (26/7/2026).
Acara Gerak Hijau 2026 sendiri merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM). Dengan mengusung tema besar "Gerak Bersama, Hijaukan Indonesia", inisiatif ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi antara pemangku kepentingan, korporasi, dan masyarakat sipil dalam upaya memitigasi dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan di tanah air.
Dalam pidatonya, Diaz Hendropriyono menyoroti adanya pergeseran paradigma yang selama ini keliru di masyarakat. Menurutnya, seringkali muncul stigma bahwa tanggung jawab pelestarian lingkungan hanya dibebankan kepada pemerintah selaku regulator atau perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Padahal, realitasnya jauh lebih luas. Diaz menekankan bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab kolektif seluruh warga negara tanpa terkecuali.
"Selama ini kita sering mendengar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab pemerintah. Ada juga yang mengatakan itu tanggung jawab perusahaan. Padahal jawabannya sederhana. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua," ujar Diaz di hadapan para peserta aksi lingkungan tersebut.
Lebih lanjut, Wamen Diaz membedah peran spesifik masing-masing entitas dalam ekosistem hijau. Pemerintah, menurut Diaz, memiliki tanggung jawab fundamental dalam merumuskan kebijakan, regulasi, dan standar yang berorientasi pada keberlanjutan. Sementara itu, dunia usaha dituntut untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab, seperti penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat, pengurangan emisi karbon, serta efisiensi penggunaan energi dalam setiap lini produksi.
Di sisi lain, masyarakat memegang peran krusial melalui perubahan perilaku sehari-hari. Diaz mengajak publik untuk mulai mengadopsi kebiasaan ramah lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga partisipasi aktif dalam aksi penghijauan seperti yang ditunjukkan dalam Gerak Hijau 2026 ini. Baginya, kebijakan setinggi apa pun tidak akan efektif tanpa adanya partisipasi aktif dan perubahan gaya hidup dari masyarakat di akar rumput.

Konteks Gerak Hijau 2026 yang diselenggarakan oleh PT ANTAM juga menjadi contoh bagaimana korporasi dapat memobilisasi sumber daya untuk kebermanfaatan sosial dan lingkungan. Sebagai perusahaan tambang yang beroperasi di berbagai wilayah di Indonesia, ANTAM memiliki tanggung jawab besar dalam mereklamasi lahan pascatambang dan menjaga keanekaragaman hayati di sekitar area operasionalnya. Langkah perusahaan ini dalam menyelenggarakan aksi hijau di ibu kota diharapkan mampu menjadi katalisator bagi perusahaan lain untuk melakukan hal serupa secara masif.
Isu lingkungan saat ini memang sedang berada di titik krusial. Indonesia, sebagai negara kepulauan yang memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, memikul beban sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas iklim global. Oleh karena itu, gerakan yang bersifat kolaboratif seperti Gerak Hijau 2026 menjadi sangat relevan. Diaz menekankan bahwa tanpa kerja sama yang solid, target Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat akan sulit dicapai.
Selain aspek kebijakan dan industri, pendidikan lingkungan juga menjadi sorotan Diaz. Ia mendorong agar kesadaran akan pentingnya menjaga bumi harus ditanamkan sejak dini, baik melalui jalur formal di sekolah maupun jalur informal di lingkungan keluarga. Generasi muda, menurutnya, adalah pemegang estafet yang akan paling merasakan dampak dari keputusan-keputusan yang diambil hari ini terkait krisis iklim. Oleh karena itu, melibatkan kaum milenial dan Gen Z dalam setiap aksi lingkungan adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya.
Diaz juga menyinggung mengenai pentingnya inovasi teknologi dalam mendukung gerakan hijau. Pemanfaatan energi terbarukan, penggunaan material daur ulang, serta teknologi pemantauan polusi udara dan air harus terus dikembangkan. Pemerintah, kata Diaz, akan terus membuka ruang kolaborasi bagi para startup dan inovator teknologi yang bergerak di bidang green economy. Sinergi antara kebijakan pemerintah, kekuatan modal perusahaan, dan kreativitas masyarakat inilah yang akan menciptakan ekosistem berkelanjutan yang tangguh.
Dalam penutup arahannya, Diaz memberikan apresiasi tinggi kepada PT ANTAM atas konsistensinya dalam menjaga keberlanjutan. Ia berharap Gerak Hijau 2026 bukan sekadar seremoni perayaan ulang tahun, melainkan awal dari gerakan berkelanjutan yang terus dipantau progresnya. Setiap pohon yang ditanam dan setiap aksi pengurangan sampah yang dilakukan adalah kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.
Dengan semangat "Gerak Bersama, Hijaukan Indonesia", Diaz mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak berhenti pada titik ini. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk membawa perubahan. Sekecil apa pun langkah yang diambil, jika dilakukan secara masif dan terstruktur oleh jutaan orang, akan memberikan dampak besar bagi pemulihan lingkungan di Indonesia.
Pesan kuat dari Wamen Lingkungan Hidup ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bumi bukanlah warisan nenek moyang yang bisa dihabiskan begitu saja, melainkan titipan dari generasi mendatang yang harus kita jaga dengan penuh tanggung jawab. Gerak Hijau 2026 adalah bukti bahwa ketika pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat bersatu, visi Indonesia yang hijau, asri, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah realitas yang sedang diwujudkan bersama-sama.