Buka Cuma Faktor Usia, Stamina Menurun Bisa Jadi Tanda Diabetes dan Gangguan Hormonal Serius
Masyarakat umum kerap kali menganggap penurunan stamina, rasa lelah yang berlebihan, perubahan fungsi seksual, hingga lonjakan kadar gula darah sebagai bagian tak terhindarkan dari proses penuaan alami atau sekadar konsekuensi dari gaya hidup yang kurang sehat. Namun, pandangan ini perlu dikoreksi, karena perubahan-perubahan tersebut justru bisa menjadi indikasi penting adanya disrupsi pada sistem hormon maupun metabolisme tubuh yang membutuhkan perhatian medis serius. Fenomena ini menjadi salah satu pokok pembahasan utama dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026, yang mengusung tema "Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care." Acara ilmiah yang diselenggarakan pada bulan Juli 2026 ini menghadirkan para pakar terkemuka di bidang penyakit dalam, termasuk dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi metabolik diabetes (Sp.PD-KEMD, FINASIM), dr. Marshell Tendean dan dr. Khomimah.
Pada kaum pria, penurunan kadar testosteron memang merupakan fenomena yang lazim terjadi seiring bertambahnya usia. Berdasarkan data dari European Male Ageing Study (EMAS), penurunan kadar testosteron total dan testosteron bebas (free testosterone) menjadi semakin signifikan setelah usia 50 tahun. Namun, perlu ditekankan bahwa perubahan hormonal yang menetap dan disertai dengan keluhan fisik yang mengganggu tidak selalu dapat dikategorikan sebagai bagian normal dari proses penuaan. Salah satu kondisi yang patut diwaspadai adalah late-onset hypogonadism (LOH), atau kekurangan testosteron yang muncul di usia dewasa. Diperkirakan, kondisi ini dialami oleh sekitar 2,1% populasi pria secara umum. Prevalensinya menunjukkan tren peningkatan yang cukup mencolok, dari hanya 0,1% pada pria berusia 40-49 tahun, melonjak menjadi 5,1% pada kelompok usia 70-79 tahun. Angka ini bahkan dapat lebih tinggi lagi pada pria yang memiliki riwayat obesitas atau sindrom metabolik.
Dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di UKRIDA Primaya Hospital, menekankan pentingnya kesadaran pada pria mengenai perubahan tubuh yang mulai berdampak pada aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup mereka. "Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk pada keseimbangan hormon. Namun, ketika gejala seperti mudah lelah, penurunan stamina yang signifikan, atau gangguan fungsi seksual mulai terasa menetap dan secara nyata memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut memerlukan investigasi medis lebih lanjut," jelas dr. Marshell. Beliau menambahkan, "Kekurangan testosteron bukan hanya sekadar masalah usia atau fungsi seksual semata, tetapi dapat berkaitan erat dengan berbagai aspek kesehatan yang lebih luas. Oleh karena itu, sangatlah krusial untuk melakukan evaluasi medis yang komprehensif dan akurat, alih-alih menganggapnya sebagai bagian alami dari proses penuaan."
Fenomena serupa juga sangat relevan ketika kita membahas diabetes. Gangguan metabolisme glukosa ini seringkali berkembang secara diam-diam tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, banyak individu baru menyadari kondisi mereka ketika komplikasi serius sudah mulai bermunculan. Berdasarkan catatan dari materi Primaya Endocrine 2026, diperkirakan lebih dari 250 juta orang dewasa di seluruh dunia tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme, yang berarti risiko komplikasi diabetes dapat berkembang secara progresif sebelum diagnosis dan penanganan yang tepat dimulai. Di Indonesia, berdasarkan data dari IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia dalam hal prevalensi diabetes pada rentang usia 20-79 tahun. Lebih mengkhawatirkan lagi, Indonesia juga berada di peringkat ketiga untuk jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.
Dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang berpraktik di Primaya Hospital Bekasi Barat, menegaskan bahwa diabetes tidak seharusnya hanya dilihat sebagai masalah peningkatan kadar gula darah semata. "Proses terjadinya diabetes melibatkan berbagai mekanisme kompleks yang memengaruhi banyak organ dalam tubuh. Oleh karena itu, penanganannya pun harus dilakukan dengan mempertimbangkan risiko pasien secara holistik," terang dr. Khomimah. Beliau mengemukakan pentingnya pergeseran paradigma dalam pengelolaan kesehatan, dari yang semula bersifat reaktif menjadi lebih proaktif. Pendekatan proaktif ini mencakup upaya menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak dini, karena organ-organ tersebut sangat rentan terhadap dampak negatif diabetes.
Diabetes tipe 2 merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak dapat hanya diukur dari satu parameter laboratorium, seperti kadar gula darah. Penilaian keberhasilan juga harus mencakup kemampuan untuk mencegah timbulnya komplikasi serius dan mempertahankan fungsi optimal dari berbagai organ vital.
Pendekatan pengelolaan diabetes saat ini telah berevolusi secara signifikan. Dari yang awalnya lebih bersifat reaktif (menunggu gejala muncul lalu diobati), kini bergerak menuju pendekatan yang lebih proaktif. Fokusnya pun menjadi lebih komprehensif, mencakup upaya protektif terhadap organ-organ penting, pemanfaatan teknologi dalam pemantauan dan penanganan, serta penyesuaian strategi pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi unik setiap pasien. Pertimbangan dalam merancang rencana pengelolaan diabetes meliputi, namun tidak terbatas pada, kondisi kesehatan jantung dan ginjal, status berat badan, tingkat risiko komplikasi, keberadaan penyakit penyerta lainnya, serta tentunya kebutuhan dan preferensi pribadi pasien.
"Oleh karena itu, tujuan utama dari pengelolaan kesehatan, terutama dalam konteks diabetes dan gangguan hormonal, bukan sekadar memperbaiki angka-angka spesifik seperti kadar hormon, gula darah, atau berat badan. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga fungsi organ agar tetap optimal, mencegah timbulnya komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempertahankan produktivitas individu dalam aktivitas sehari-hari, dan yang terpenting, memastikan kualitas hidup yang baik dalam jangka panjang," pungkas dr. Khomimah, menekankan pentingnya pandangan holistik dan proaktif dalam menjaga kesehatan.

