Ini Tampang Pembunuh dan Pemerkosa di Jurumudi, Ngaku Mabuk dan Sudah Siapkan Sabuk untuk Ikat Korban
TANGERANGNEWS.com – Sebuah tragedi mengerikan mengguncang kawasan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, ketika seorang wanita muda berinisial SNA, 21 tahun, ditemukan tewas secara mengenaskan di rumah kontrakannya. Pelaku, yang ternyata adalah tetangga korban sendiri berinisial KF, berhasil dibekuk oleh tim Subdit Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam setelah aksi sadisnya terjadi pada Selasa, 11 Agustus 2026. Penangkapan cepat ini menjadi bukti kejelian aparat kepolisian dalam mengungkap kasus yang membuat warga sekitar diliputi ketakutan dan duka mendalam.
Sebelum kedoknya terbongkar, KF sempat menunjukkan sikap yang mencurigakan. Ia berpura-pura tidak mengetahui apa pun tentang kejadian tersebut. Bahkan, ia dengan santainya mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP) setelah korban ditemukan tak bernyawa. Tak hanya itu, ia juga memberikan keterangan kepada polisi, seolah-olah menjadi saksi yang tidak bersalah. Namun, kepandaiannya dalam berakting tidak mampu mengelabui para penyidik yang tajam. Rekaman video interogasi kepolisian yang kemudian beredar luas di media sosial, secara gamblang membeberkan detik-detik mengerikan dari aksi biadab yang dilakukannya terhadap SNA.
Dalam pengakuannya yang terekam, KF secara blak-blakan memaparkan kronologi peristiwa kelam tersebut. Ia mengaku, sebelum melancarkan aksinya yang brutal, dirinya telah menenggak minuman beralkohol jenis anggur merah. Total ada tiga botol yang ia habiskan bersama seorang temannya pada malam kejadian. "Aku mabuk, Pak. Minum anggur merah. Berdua sama teman, minum tiga botol," ungkapnya, seperti dikutip pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kondisi mabuk berat ini diduga kuat menjadi pemicu utama munculnya niat jahat dan hilangnya kontrol diri KF.
Setelah menghabiskan minuman kerasnya dan berniat keluar untuk mencari makan, KF secara kebetulan melihat pacar korban meninggalkan kontrakan. Momen ini menjadi celah baginya. Mengetahui bahwa kamar korban sedang dalam keadaan kosong, KF lantas tergerak oleh niat jahat yang sudah terbentuk. Ia pun kembali ke dekat kamar korban dan mendapati pintu kamar SNA ternyata tidak terkunci. "Aku cek dia punya pintu, terus enggak dikunci, aku terus masuk," lanjutnya, menjelaskan bagaimana ia berhasil masuk ke dalam kamar korban tanpa hambatan.
Lebih mengerikan lagi, KF mengaku bahwa dirinya sudah menyiapkan sebuah ikat pinggang atau gesper sejak awal kedatangannya. Benda ini bukan dibawa tanpa tujuan, melainkan memang disiapkan khusus untuk mengikat tangan korban. Niatnya untuk mengikat korban menunjukkan adanya perencanaan dalam aksi kejinya, meskipun kemungkinan besar dipicu oleh kondisi mabuk. Saat ia memasuki kamar dan korban yang sedang terlelap terbangun mendadak, kepanikan melanda KF. Korban yang terkejut berteriak, membuat KF segera bereaksi.
Dalam kepanikannya ketahuan, KF tidak ragu untuk langsung menyerang korban. Ia nekat menggunakan gesper yang dibawanya untuk melilit dan menjerat leher SNA. "Terus aku lari, aku ikat lehernya. Dia lemas, Pak," ujar KF dengan nada datar saat menjelaskan detik-detik mencekik korban hingga tak berdaya. Tindakan mencekik ini dilakukan dengan begitu cepat dan brutal, membuat korban kehilangan kesadarannya dalam waktu singkat.
Setelah korban tak sadarkan diri akibat cekikan yang kuat, KF kemudian melancarkan aksi pemerkosaan terhadap SNA. Namun, dalam keterangannya, KF mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah korban masih dalam kondisi hidup atau sudah meninggal dunia saat ia melakukan persetubuhan tersebut. Ketidakpastian ini semakin menambah sisi mengerikan dari kejahatan yang dilakukannya. Ia seolah tidak memiliki empati sedikit pun terhadap kondisi korban yang tak berdaya.
Pasca melancarkan aksi bejatnya, KF berusaha untuk menutupi jejak perbuatannya. Ia kembali memakaikan kembali celana korban yang terlepas, lalu menempatkan tubuh SNA kembali di atas kasur. Tindakan ini dilakukan sebelum akhirnya ia meninggalkan lokasi kejadian dengan tergesa-gesa, seolah tidak ada kejadian apa pun yang baru saja ia lakukan. Namun, usahanya untuk menghilang tanpa jejak harus pupus di tangan kepolisian yang bekerja tanpa lelah.
Kini, KF harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sangat keji di hadapan hukum. Ia harus mendekam di balik jeruji besi untuk menjalani proses hukum dan menerima konsekuensi atas tindakan pembunuhan dan pemerkosaan yang telah merenggut nyawa seorang wanita muda dan menghancurkan kehidupan keluarganya. Kasus ini menjadi pengingat akan bahaya penyalahgunaan minuman beralkohol yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kriminalitas di luar nalar. Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar, terutama bagi para wanita, agar terhindar dari ancaman serupa. Pihak kepolisian terus berkomitmen untuk mengungkap tuntas seluruh rangkaian peristiwa ini dan memberikan keadilan bagi korban.

