Peking University Siap Perluas Kerja Sama Riset dengan Kementrans untuk Akselerasi Pembangunan Kawasan
Peking University, melalui Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), secara resmi menyatakan komitmen untuk memperluas cakupan kerja sama strategis dengan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia. Inisiatif ini difokuskan pada penguatan riset bersama, pertukaran akademik, serta pertukaran pengetahuan kebijakan yang mendalam guna mendukung percepatan pembangunan kawasan transmigrasi yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan di Indonesia.
Ketua Dewan Manajemen National School of Development Peking University, Prof. Lei Xiaoyan, menegaskan bahwa kemitraan ini dirancang sebagai platform kolaborasi jangka panjang. Menurutnya, hubungan antara kedua belah pihak tidak boleh berhenti pada level diskusi seminar semata, melainkan harus bertransformasi menjadi laboratorium riset bersama yang menghasilkan solusi konkret bagi tantangan pembangunan di kedua negara.
"Kami memiliki visi untuk membangun platform jangka panjang yang fokus pada riset terarah. Topik-topik krusial seperti tata kelola kependudukan, pembangunan wilayah yang berimbang, hingga jaminan sosial menjadi prioritas kami. Kami ingin memastikan bahwa hasil riset ini memiliki dampak nyata terhadap kebijakan publik di kawasan transmigrasi," ujar Prof. Lei dalam acara "Seminar on China’s Development Model" di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Lebih lanjut, Prof. Lei memaparkan bahwa peluang kerja sama yang sedang dirancang mencakup spektrum yang luas. Selain kolaborasi riset, Peking University membuka pintu lebar bagi pertukaran akademik berkala, program pertukaran pemuda, serta dialog intensif antar-think tank. Pihak ISSCAD juga secara khusus menawarkan peluang bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kementerian Transmigrasi untuk menempuh pendidikan lanjut melalui program gelar di bidang pembangunan nasional. Hal ini diharapkan dapat mencetak kader-kader penggerak pembangunan yang memiliki wawasan global namun tetap berpijak pada kebutuhan lokal.
ISSCAD sendiri selama ini dikenal sebagai pusat unggulan yang berfokus pada pertukaran pengetahuan pembangunan, pendidikan pejabat pemerintah, serta penguatan dialog kebijakan di antara negara-negara berkembang. Dalam seminar tersebut, para delegasi dari Peking University membedah keberhasilan model pembangunan China yang mencakup transformasi tata kelola pemerintahan, modernisasi pertanian, industrialisasi pedesaan, hingga strategi jitu pengentasan kemiskinan ekstrem.
Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Prof. Lei adalah pengalaman panjang Peking University dalam mendampingi wilayah-wilayah di China yang dulunya tertinggal menjadi kawasan yang maju. Namun, ia dengan rendah hati menegaskan bahwa proses pembelajaran ini bersifat dua arah (mutual learning). China juga sangat tertarik mempelajari bagaimana Indonesia mengelola dinamika sosial dan pembangunan di wilayah transmigrasi yang memiliki karakteristik geografis serta budaya yang sangat unik.
"Kami tidak ingin memposisikan diri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Kami sangat ingin belajar dari pengalaman Indonesia. Keunikan pendekatan Indonesia dalam mengelola transmigrasi sebagai instrumen redistribusi penduduk dan pembangunan ekonomi merupakan pelajaran berharga yang ingin kami pelajari lebih dalam," tambah Prof. Lei.
Langkah konkret kerja sama ini sebenarnya telah dimulai sejak Mei 2026. Kala itu, Kementerian Transmigrasi telah memberangkatkan delegasi sebanyak 36 peserta ke China untuk mengikuti pelatihan intensif mengenai pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan. Para peserta yang diberangkatkan merupakan perpaduan antara unsur pemerintahan, pelatih balai transmigrasi, perwakilan transmigran, hingga akademisi dari 10 perguruan tinggi di Indonesia.
Selama periode 9-22 Mei 2026, para peserta tidak hanya duduk di kelas, tetapi juga melakukan kunjungan lapangan ke berbagai titik pembangunan di China. Hasil dari pelatihan tersebut kini sedang dikonsolidasikan menjadi policy paper (naskah kebijakan) dan buku panduan implementatif yang diharapkan dapat menjadi cetak biru bagi Tim Ekspedisi Patriot dalam mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Dukungan terhadap kolaborasi ini juga datang dari Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong. Dalam pernyataannya pada Agustus 2026, Dubes Wang menegaskan bahwa China mendukung penuh transformasi transmigrasi Indonesia. Ia secara khusus membuka peluang bagi pemerintah daerah di kawasan transmigrasi untuk melakukan studi banding terkait pembangunan perdesaan dan revitalisasi kawasan yang telah terbukti sukses di berbagai provinsi di China.
Seminar yang diselenggarakan pada 11-12 Agustus 2026 ini menjadi puncak dari serangkaian dialog teknis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Selain membahas reformasi ekonomi, forum ini juga menyentuh aspek krusial tentang bagaimana negara berkembang dapat berkolaborasi untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi antarwilayah.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyambut hangat tawaran perluasan riset tersebut. Menurut Viva, kehadiran akademisi dan pakar dari Peking University memberikan perspektif baru yang menyegarkan bagi jajaran kementeriannya. Ia berharap hasil dari seminar ini tidak hanya berakhir pada tumpukan laporan, tetapi menjadi landasan bagi lahirnya kebijakan-kebijakan yang lebih praktis, inovatif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat transmigran.
"Kami ingin seminar ini menjadi katalisator bagi kemitraan kelembagaan yang lebih kuat. Kita membutuhkan wawasan praktis yang bisa diterapkan di lapangan. Bagaimana kita mereplikasi keberhasilan China dalam pembangunan perdesaan tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal kita. Itulah tantangan yang akan kita jawab melalui kerja sama ini," ujar Viva Yoga.
Dalam konteks pembangunan nasional Indonesia, kawasan transmigrasi memegang peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Dengan adanya transfer teknologi, pengetahuan manajerial, dan model pembangunan yang ditawarkan oleh Peking University, diharapkan produktivitas di kawasan transmigrasi dapat meningkat pesat. Sinergi ini mencakup pengembangan sistem pertanian berbasis teknologi digital, manajemen logistik kawasan, hingga penguatan kelembagaan koperasi transmigran agar lebih mampu bersaing di pasar global.
Secara teknis, pengembangan riset bersama ke depan akan difokuskan pada pemetaan potensi wilayah. Riset ini nantinya akan mengintegrasikan data demografi, potensi sumber daya alam, dan aksesibilitas pasar. Peking University dengan kapasitas risetnya yang mumpuni diharapkan mampu membantu Kementrans dalam menyusun model ekonomi yang tahan terhadap guncangan pasar, terutama dalam sektor komoditas pertanian dan industri olahan skala kecil di pedesaan.
Selain itu, kerja sama ini juga mencakup aspek social engineering atau rekayasa sosial. Mengingat transmigrasi melibatkan perpindahan dan interaksi antarbudaya, riset bersama ini juga akan mengkaji bagaimana membangun kohesi sosial yang kuat di antara transmigran dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sejalan dengan pengalaman China dalam menjaga stabilitas wilayah melalui pembangunan yang inklusif dan partisipatif.
Sebagai tindak lanjut, dalam waktu dekat akan dibentuk kelompok kerja bersama (joint working group) antara tim ahli Peking University dan para pakar dari Kementerian Transmigrasi. Kelompok ini akan menyusun peta jalan (roadmap) penelitian selama tiga hingga lima tahun ke depan. Fokus utamanya adalah pada pengentasan kemiskinan berbasis kawasan, di mana setiap kawasan transmigrasi akan memiliki spesialisasi komoditas unggulan yang didukung oleh rantai pasok yang terintegrasi.
Dengan keterlibatan aktif dari akademisi dan praktisi, diharapkan transformasi transmigrasi Indonesia tidak hanya sekadar memindahkan penduduk, tetapi benar-benar menciptakan pusat-pusat peradaban baru yang mampu menyumbang signifikan terhadap PDB nasional. Kolaborasi internasional dengan institusi sekelas Peking University merupakan langkah strategis yang membuktikan bahwa Kementrans serius dalam mengadopsi standar internasional demi mempercepat visi Indonesia Emas 2045, di mana kawasan transmigrasi diharapkan menjadi pilar utama ketahanan pangan dan kesejahteraan nasional.
Melalui kemitraan yang transparan dan saling menguntungkan ini, Indonesia dan China mempertegas komitmen untuk terus berbagi peran dalam memperkuat kerja sama Selatan-Selatan, memastikan bahwa pembangunan di negara-negara berkembang tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi dan dinamika ekonomi global.






Leave a Reply